:)

:)
WELCOME TO MY BLOG :) HAPPY READING :) I HOPE USEFUL FOR YOU !!! AND PLEASE LEAVE A COMMENT :)

Minggu, 03 Juni 2012

Mekanisme Kliring, Loan, Data Flow Diagram, dan Bunga


A. KLIRING

Pengertian Kliring    

            Kliring adalah suatu tata cara perhitungan utang piutang dalam bentuk surat-surat dagang dan surat-surat berharga dari suatu bank terhadap bank lainnya. Hal ini bertujuan agar penyelesaiannya dapat terselenggara dengan mudah, aman, dapat memperluas dan memperlancar lalu lintas pembayaran giral. Lalu lintas pembayaran giral adalah suatu proses kegiatan bayar membayar dengan warkat atau nota kliring yang dilakukan dengan cara saling memperhitungkan beban dan keuntungan para nasabah diantara bank-bank. Pengertian dari giral adalah simpanan pihak ketiga kepada bank yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, surat perintah pembayaran lainnya, atau dengan cara pemindahbukuan. Proses kliring ini diatur oleh sebuah sistem bernama SKNBI. SKNBI merupakan sebuah singkatan dari Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia yaitu sebuah sistem kliring Bank Indonesia yang meliputi kliring debet dan kliring kredit yang penyelesaian akhirnya dilakukan secara nasional. Nilai nominal nota debet yang diterbitkan oleh Bank untuk dikliringkan melalui kliring debet dalam penyelenggaraan SKNBI paling banyak sebesar Rp 10 juta per nota debet. Sementara, batas nilai nominal transfer kredit yang dapat dikliringkan melalui kliring kredit adalah dibawah Rp. 100 juta per transaksi. Maka dari itu untuk mengantisipasi kekalahan kliring, maka bank-bank wajib menyetor dananya minimal 8% dari keseluruhan deposit yang diterimanya ke Bank Indonesia yang dinamakan giro wajib minimum.

Jenis-jenis Kliring

1. Kliring Manual

            Kliring manual adalah proses kliring yang dilakukan dengan menghadirkan petugas kliring di suatu tempat yang disediakan oleh penyelenggara kliring dan melakukan pertukaran warkat-warkat kliring secara manual. Proses kliring manual sebagai berikut :

1)    Warkat dicatat dalam daftar kliring sesuai bank peserta kliring,
2)     Nominal di daftar kliring dibuatkan rekapitulasi kliring,
3)  Atas penyerahan kliring dibuatkan bilyet kliring ke Bank Indonesia beserta warkat penyerahan,
4)  Menerima warkat penarikan kliring on hand dari bank lain beserta bilyet dan rekap warkat penarikan kliring.

2. Kliring Semi Otomasi

            Kliring semi otomasi adalah kliring lokal yang perhitungan dan pembuatan bilyet saldo kliring dilakukan secara otomasi melalui alat bantu komputer, namun pemilihan warkat tetap dilakukan secara manual oleh bank peserta kliring.

3. Kliring Elektronik

            Kliring elektronik adalah penyelenggaraan kliring lokal yang dalam pelaksanaan perhitungan dan pembuatan bilyet saldo kliring didasarkan pada data keuangan elektronik disertai dengan penyampaian warkat peserta kepada penyelenggara untuk diteruskan kepada peserta penerima atau dengan kata lain kliring elektronik  adalah kliring yang dilakukan dengan menggunakan perangkat yang bekerja secara otomatis. Kliring Elektronik dapat dikelompokkan menjadi siklus kliring nominal besar dan siklus kliring nominal ritel.

Jenis Transaksi Kliring

a.     Setoran Kliring
      Setoran kliring adalah warkat bank lain yang disetorkan ke rekening nasabah.

b.      Tarikan Kliring
    Tarikan kliring adalah warkat yang ditagihkan penarik dari bank lain kepada rekening tertarik.

c.     Kiriman Uang Masuk
      Kiriman uang masuk merupakan pemindahan dana dari bank lain.

d.    Kiriman Uang Keluar
     Kiriman uang keluar merupakan pemindahan dana ke bank lain.

e.    Tolakan Keluar
    Tolakan keluar adalah warkat penarikan kliring yang ditolak pembayarannya atau tidak memenuhi syarat baku.

f.     Tolakan Masuk
    Tolakan masuk adalah warkat setoran kliring yang ditolak pembayarannya oleh bank lain.

Warkat Kliring

            Warkat adalah alat pembayaran bukan tunai atau disebut juga alat bantu lalu lintas pembayaran giral yang diperhitungkan dalam kliring lokal yang terdiri dari :

a. Cek
            
               Cek adalah warkat yang berisi perintah tidak bersyarat kepada bank yang memelihara rekening nasabah untuk membayarkan suatu jumlah uang tertentu kepada orang tertentu atau yang ditunjuk olehnya atau kepada pembawanya.

b. Bilyet giro

            Bilyet giro adalah suatu surat perintah tak bersyarat untuk memindahkan sejumlah uang pada rekening seseorang pada tanggal dan tempat tertentu. Secara yuridis bilyet giro tidak dapat dipindahtangankan karena bersifat pemindahbukuan, namun dalam praktek bilyet giro dapat dipindahtangankan karena dianggap menghambat lalu lintas pembayaran. Proses pemindahtanganan dilakukan dengan cara kuasi surat berharga atau surat berharga semu.

c. Nota debet

            Nota debet yaitu warkat penagihan piutang yang disetorkan oleh nasabah kepada banknya untuk ditagih kepada bank penerbitnya. Nota debet dibagi kedalam 2 bagian yaitu :

    1. Nota Debet Keluar

            Nota debet keluar merupakan warkat yang disetorkan oleh nasabah untuk keuntungan rekeningnya. Bank penarik akan mendebit rekening giro pada Bank Indonesia.

   2. Nota Debet Masuk

            Nota debet masuk merupakan warkat yang diterima oleh suatu bank atas cek sendiri yang ditarik oleh nasabahnya. Bank akan mengkredit rekening giro pada Bank Indonesia.

d. Nota kredit

            Nota kredit yaitu warkat perintah pembayaran yang diberikan nasabahnya untuk membayar kewajibannya melalui kliring. Nota kredit  dibagi kedalam 2 bagian yaitu :

    1. Nota Kredit Keluar

            Nota kredit keluar merupakan warkat dari nasabah sendiri untuk disetorkan kepada nasabah pada bank lain. Pada nota kredit keluar akan tercipta hubungan giro. Bank yang menyerahkan warkat kepada bank lain akan mengkredit rekening giro pada Bank Indonesia.

   2. Nota Kredit Masuk

            Nota kredit masuk merupakan warkat yang diterima oleh suatu bank untuk keuntungan rekening nasabah bank tersebut. Disini bank penerima warkat ini akan mendebit rekening giro pada Bank Indonesia.

e. Wesel Bank untuk Transfer

            Wesel adalah surat yang diterbitkan pada tanggal dan tempat tertentu dimana penerbit memberi perintah tak bersyarat kepada tertarik untuk membayar sejumlah uang kepada orang yang ditunjuk atau penggantinya pada tanggal dan tempat tertentu.

Dibawah ini ialah ringkasan surat untuk nota debet dan nota kredit.

Surat
Saldo di Bank Indonesia
Nota Debet Keluar
+
Nota Debet Masuk
-
Nota Kredit Keluar
-
Nota Kredit Masuk
+
Tolakan
+/-
                       Hasil
               +/-     (menang kliring / kalah kliring)



Kasus – Kasus Kliring menurut Jenis Pembagian Wilayah Kliring

1. Kliring Umum

       Kliring umum adalah sarana perhitungan warkat-warkat antar bank yang pelaksanaannya diatur oleh Bank Indonesia.

2. Kliring Lokal

            Kliring lokal adalah sarana perhitungan warkat antar bank yang berada dalam suatu wilayah kliring (telah ditentukan).

Contoh kasus kliring umum dan lokal :

a. Transfer Pembayaran Melalui Giro



            Gambar 1.1 diatas merupakan ilustrasi dari kasus 1 mengenai transfer pembayaran melalui giro yang tentu saja hal ini menggunakan sistem kliring. Gambar tersebut bercerita bahwa Mr.A membeli sejumlah barang dari Mrs.B dengan harga Rp 80 juta. Pembayaran tersebut dilakukan melalui sebuah cek yang diberikan oleh Mrs. A kepada Mrs. B. Untuk mencairkan cek tersebut, Mrs.B membawa cek yang diberikan oleh Mr.A ke Bank B tempat Mrs.B menyimpan sejumlah dananya. Lalu Bank B akan membawa cek yang telah diberikan Mrs.B ke Bank Indonesia dengan membawa surat nota debet keluar. Seperti penjelasan sebelumnya, nota debet keluar adalah warkat yang disetorkan oleh nasabah untuk keuntungan rekeningnya sehingga Bank penarik akan mendebit rekening giro pada Bank Indonesia. Hal ini dilakukan karena Bank B tidak akan mencairkan cek tersebut dengan dana yang ada di brankasnya, maka dari itu sistem Giro Wajib Minimum diberlakukan oleh Bank Indonesia. Jadi Bank Indonesia merupakan perantara keuangan antara Bank A dan Bank B dalam transaksi kliring.

            Jika dana Bank A yang ada di brankas Bank Indonesia masih diatas batas minimum peraturan Bank Indonesia yakni GWM (Giro Wajib Minimum) > 8% maka Bank Indonesia akan mengambil dana Bank A dari GWM bank A yang ada di Bank Indonesia dengan memberikan surat nota debet masuk ke Bank A untuk memberikan informasi mengenai pengambilan dana Bank A dari GWM yang ada di Bank Indonesia untuk mencairkan cek dari Mr.A.  Seperti penjelasan sebelumnya, nota debet masuk merupakan warkat yang diterima oleh suatu bank atas cek sendiri yang ditarik oleh nasabahnya dan Bank akan mengkredit rekening giro pada Bank Indonesia.

         Untuk lebih jelas mengenai ilustrasi diatas, dibawah ini merupakan tampilan neraca dan pencatatan yang dialakukan oleh Bank Indonesia, Bank A, dan Bank B.

Neraca Bank Indonesia

Assets
Liabilities

Rekening Koran Bank A (-)

Rekening Koran Bank B (+)


Ayat Jurnal Bank Indonesia

Bank A                                                      Rp. 80.000.000,-
       Bank B                                                                                Rp. 80.000.000,-

Neraca Bank A

Assets
Liabilities
Rekening Koran Bank Bank Indonesia (-)
Rekening Giro Mr. A (-)



Ayat Jurnal Bank A

Giro Mr. A                                                Rp. 80.000.000,-
       Rekening Koran Bank Indonesia                                      Rp. 80.000.000,-

Neraca Bank B

Assets
Liabilities
Rekening Koran Bank Bank Indonesia (+)
Tabungan  Mrs. B (+)



Ayat Jurnal Bank B

Rekening Koran Bank Indonesia               Rp. 80.000.000,-
       Tabungan Mrs.B                                                                   Rp. 80.000.000,-



b. Pengiriman Sejumlah Dana oleh Nasabah melalui  Account Pribadinya



            Gambar 1.2 mengilustrasikan mengenai pengiriman sejumlah dana oleh nasabah malalui banknya. Gambar tersebut bercerita bahwa Mrs.B akan mengirim sejumlah dana misalnya sebesar Rp. 100 juta dari tabungannya ke Mr. A dengan cara memerintahkan Bank B untuk mengambil sejumlah dana Mrs. B yang ada dibrankasnya dan kemudian mengirimkan dana tersebut ke Mr. A melalui Bank A. setelah Bank B mendapatkan perintah dari Mrs. B, maka Bank B akan melakukan transaksi kliring melalui Bank Indonesia dengan membawa surat nota kredit keluar. Seperti penjelasan sebelumnya, nota kredit keluar merupakan warkat dari nasabah sendiri untuk disetorkan kepada nasabah pada bank lain. Pada nota kredit keluar akan tercipta hubungan giro. Bank yang menyerahkan warkat kepada bank lain akan mengkredit rekening giro pada Bank Indonesia.

               Setelah Bank Indonesia mendapatkan nota kredit keluar dari Bank B, maka Bank Indonesia akan memberikan surat nota kredit masuk ke Bank A untuk memberitahukan bahwa ada dana yang masuk ke Bank A. Seperti penjelasan sebelumnya, nota kredit masuk merupakan warkat yang diterima oleh suatu bank untuk keuntungan rekening nasabah bank tersebut. Dalam hal ini bank penerima warkat ini akan mendebit rekening giro pada Bank Indonesia.

            Untuk lebih jelas mengenai ilustrasi diatas, dibawah ini merupakan tampilan neraca dan pencatatan yang dialakukan oleh Bank Indonesia, Bank A, dan Bank B.

Neraca Bank Indonesia

Assets
Liabilities

Rekening Koran Bank A (+)

Rekening Koran Bank B (-)

Ayat Jurnal Bank Indonesia

Bank B                                                          Rp. 100.000.000,-
       Bank A                                                                                      Rp. 100.000.000,-

Neraca Bank A

Assets
Liabilities
Rekening Koran Bank Bank Indonesia (+)
Tabungan Mr. A (+)



Ayat Jurnal Bank A

Rekening Koran Bank Indonesia               Rp. 100.000.000,-
       Tabungan Giro Mr. A                                                                 Rp. 100.000.000,-

Neraca Bank B

Assets
Liabilities
Rekening Koran Bank Indonesia (-)
Tabungan  Mrs. B (-)



Ayat Jurnal Bank B

Tabungan Mrs. B                                        Rp. 100.000.000,-
       Rekening Koran Bank Indonesia                                            Rp. 100.000.000,-


c. Kalah dan Menang Kliring



               Gambar 1.3 mengilustrasikan penolakan kliring. Gambar ini memiliki ilustrasi yang hampir sama dengan gambar 1.1 tentang transfer pembayaran melalui giro, tetapi hanya terdapat satu perbedaan yaitu  ketika Bank B memberikan surat nota debet keluar kepada Bank Indonesia dan kemudian Bank Indonesia menemukan di brankasnya bahawa Giro Wajib Minimum Bank A telah dibawah batas minimum 8%, maka Bank Indonesia memiliki kebijakannya yaitu melakukan penolakan kliring. Penolakan kliring ini akan membuat Bank A kalah kliring sedangkan Bank B akan mengalami menang kliring. Maka neraca dan ayat jurnal pada Bank Indonesia, Bank A, dan Bank B pada gambar 1.1 akan berubah menjadi berikut ini.

Neraca Bank Indonesia

Assets
Liabilities

Rekening Koran Bank A (-)

Rekening Koran Bank B (+)

Ayat Jurnal Bank Indonesia

Bank B                                                Rp. 80.000.000,-
       Bank A                                                                                  Rp. 80.000.000,-

Neraca Bank A

Assets
Liabilities
Rekening Koran Bank Bank Indonesia (-)
Rekening Giro Mr. A (-)



Ayat Jurnal Bank A

Giro Mr. A                                                        Rp. 80.000.000,-
       Rekening Koran Bank Indonesia                                            Rp. 80.000.000,-

Neraca Bank B

Assets
Liabilities
Rekening Koran Bank Bank Indonesia (+)
Tabungan  Mrs. B (+)



Ayat Jurnal Bank B

Rekening Koran Bank Indonesia               Rp. 80.000.000,-
       Tabungan Mrs.B                                                                   Rp. 80.000.000,-

            Untuk lebih jelasnya mengenai kalah dan menang kliring, contoh selanjutnya misalnya Bank A memiliki deposit sebesar Rp. 100.000.000 dengan Giro Wajib Minimum minimal 8% sebesar Rp. 8.000.000. Kemudian dalam transaksi kliring, Bank A mengalami kalah kliring dengan Bank B sebesar Rp. 2.000.000. Sehingga, Giro Wajib Minimum Bank A yang ada pada Bank Indonesia saat ini sebesar Rp. 6.000.000 (Rp. 8.000.000 – Rp. 2.000.000). Dengan Giro Wajib Minimum sebesar Rp 6.000.000 yang dimiliki oleh Bank A, maka untuk transaksi kliring selanjutnya agar Bank A tidak mengalami kekalahan kliring kembali, Bank A harus meminjam sejumlah dana kepada Bank yang menang kliring yaitu Bank B. Peminjaman yang dilakukan oleh Bank A kepada Bank B akibat dari kalah kliring ini disebut dengan call money. Hal ini dilakukan karena jika pada transaksi kliring selanjutnya Bank A tidak mampu membayar kembali dan menyebabkan hutang Bank A menjadi lebih banyak maka Bank Indonesia memiliki wewenang untuk melikuidasi Bank A tersebut karena syarat dari sebuah Bank ialah melakukan transaksi kliring dan memiliki rekening koran di Bank Indonesia atau Giro Wajib Minimum. Bagaimanapun kekalahan kliring tidak berpengaruh pada likuiditas sebuah bank, tetapi akan berpengaruh jika saldo rekening koran bank tersebut di Bank Indonesia tidak memenuhi Giro Wajib Minimum.

            Sementara untuk rekening koran Bank B yang mengalami menang kliring akan menjadi Rp. 12.000.000. Rekening koran tersebut berasal dari deposit Bank B sebesar Rp. 100.000.000 dengan Giro Wajib Minimum minimal 8% sebesar Rp 10.000.000 (Rp. 8.000.000 + Rp. 2.000.000) yang bersumber dari Giro Wajib Minimum Rp. 8.000.000 (Rp 100.000.000 x  8%) dan dari Excess Reserve atau kelebihan cadangan sebesar Rp. 2.000.000 kemudian ditambah dengan dana menang kliring sebesar Rp. 2.000.000. Jadi total rekening koran atau Giro Wajib Minimum Bank B di Bank Indonesia telah berubah menjadi Rp. 12 juta (Rp. 8.000.000 + Rp. 2.000.000 + Rp. 2.000.000).

3. Kliring Antar Cabang (interbranch clearing)

            Kliring antar cabang adalah sarana perhitungan warkat antar kantor cabang suatu bank peserta yang biasanya berada dalam suatu wilayah kota. Kliring ini dilakukan dengan cara mengumpulkan seluruh perhitungan dari suatu kantor cabang untuk kantor cabang lainnya yang bersangkutan  pada kantor induk yang bersangkutan.

            Terkadang kliring antar cabang melibatkan transfer karena pada proses kliring yang melibatkan antar cabang di daerah yang berbeda, kedua bank harus mencari cabang kedua bank tersebut yang berada di wilayah yang sama. Kliring berbeda dengan transfer karena kliring terjadi akibat adanya perbedaan bank bukan hanya perbedaan tempat atau wilayah. Sedangkan transfer terjadi hanya karena perbedaan tempat atau wilayah bukan perbedaan bank.

Contoh kasus kliring antar cabang yang melibatkan transfer :

a. Kliring dan Transfer antar Kantor Cabang di Wilayah yang Sama



               Pada gambar 1.4 mengilustrasikan bahwa Mr. A akan mentransfer sejumlah dana dari account miliknya di BRI Jakarta sebesar Rp. 70.000.000 ke account Mrs. B di BPD yang ada di Papua Mapi. Karena proses kliring ini terjadi di Bank dan wilayah yang berbeda, maka kliring ini harus menyertai proses transfer. Jadi, BRI Jakarta tidak dapat langsung melakukan kliring melainkan harus melakukan proses transfer ke BRI Makasar terlebih dahulu karena proses kliring akan terjadi di wilayah yang sama pada bank yang berbeda.

Ayat Jurnal BRI Jakarta (saat transfer ke BRI Makasar)

Tabungan Mr. A                                     Rp. 70.000.000,-
       RAK (Rekening Antar Kantor)                                      Rp. 70.000.000,-

            Karena BRI Makasar telah satu wilayah dengan BPD Papua Makasar maka terjadilah proses kliring dari BRI Makasar ke BPD Papua Makasar yang kemudian akan diteruskan dengan mentransfer dana tersebut ke BPD Papua Mapi.

Ayat Jurnal BRI Makasar (kliring ke BPD Papua Makasar)

RAK (Rekening Antar Kantor)               Rp. 70.000.000,-
       Rekening Koran Bank Indonesia                                     Rp. 70.000.000,-

Ayat Jurnal BPD Papua Makasar (transfer ke BPD Papua Mapi)

Rekening Koran Bank Indonesia            Rp. 70.000.000,-
              RAK (Rekening Antar Kantor)                                  Rp. 70.000.000,-

            Setelah melakukan transfer ke BPD Papua Mapi, BPD Papua Mapi akan mencatat ayat jurnal pada account  Mrs. B sebagai berikut.

Ayat Jurnal BPD Papua Mapi (saldo rekening Mrs. B)

RAK (Rekening Antar Kantor)                  Rp. 70.000.000,-
              Giro Mrs. B                                                                    Rp. 70.000.000,-

            Jika dirumuskan, pencatatan ayat jurnal pada account Mr. A dan Mrs. B adalah seperti di bawah ini.
Ayat Jurnal (saldo rekening Mr. A dan Mrs. B)

Tabungan Mr. A                                         Rp. 70.000.000,-
              Giro Mrs. B                                                                       Rp. 70.000.000,-


b. Kliring dan Transfer antar Daerah


              Gambar 1.5 mengilustrasikan kliring dan transfer antar daerah yang memperlihatkan lalu lintas moneter. Pada gambar tersebut mengilustrasikan bahwa Mr. A telah melakukan sebuah transaksi dengan Mrs. B sebesar Rp. 60.000.000 yang menyebabkan Bank Niaga Jakarta akan melakukan transaksi kliring dengan BPD Papua Mapi. Langkah pertama yaitu Bank Niaga Jakarta melakukan proses kliring dengan BRI Jakarta. Hal ini dikarenakan Bank Niaga Jakarta tidak memiliki kantor cabang di Papua Mapi, juga dikarenakan BPD Papua Mapi hanya memiliki kantor cabang di Makasar, maka hanya ada satu cara yaitu Bank Niaga Jakarta melakukan kliring terlebih dahulu ke BRI Jakarta yang kemudian akan dilanjutkan mentransfer ke BRI Makasar agar dapat melakukan klirng ke BPD Papua Makasar. Maka dari itu BRI dapat dikatakan sebagai perantara antara Bank Niaga Jakarta dengan BPD Papua Mapi. Seperti penjelasan sebelumnya bahwa kliring akan terjadi jika bank yang berbeda berada di wilayah yang sama dan transfer terjadi pada bank yang sama di wilayah yang berbeda.

Ayat Jurnal Bank Niaga Jakarta (kliring ke BRI Jakarta)

Tabungan Mrs. A                                            Rp. 60.000.000,-
              Rekening Koran Bank Indonesia                                    Rp. 60.000.000,-

            Kemudian BRI Jakarta akan mentransfer dana tersebut ke BRI Makasar dan setelah itu akan dilakukan proses kliring ke BPD Papua Makasar.

Ayat Jurnal BRI Jakarta (transfer ke BRI Makasar)

Rekening Koran Bank Indonesia                                    Rp. 60.000.000,-
              RAK (Rekening Antar Kantor)                                                             Rp. 60.000.000,-

Ayat Jurnal BRI Makasar (kliring ke BPD Papua Makasar)

RAK (Rekening Antar Kantor)                                          Rp. 60.000.000,-
              Rekening Koran Bank Indonesia                                                           Rp. 60.000.000,-

            Setelah melakukan kliring ke BPD Papua Makasar, BPD Papua Makasar akan mentransfer dana tersebut ke BPD Papua Mapi. Kemudian BPD Papua Makasar akan mencatat dana tersebut di account milik Mrs. B.

Ayat Jurnal BPD Papua Makasar (transfer ke BPD Papua Mapi)

Rekening Koran Bank Indonesia                                    Rp. 60.000.000,-
              RAK (Rekening Antar Kantor)                                                                Rp. 60.000.000,-

Ayat Jurnal BPD Papua Mapi (saldo rekening Mrs. B)

RAK (Rekening Antar Kantor)                                          Rp. 60.000.000,-
              Giro Mrs. B                                                                                                Rp. 60.000.000,-


4. Kliring Antar Negara

            Untuk kliring antar negara dapat dilakukan dengan dua cara seperti ilustrasi-ilustrasi di bawah ini.

            Gambar 1.6 mengilustrasikan Mr.A yang berada di Arab Saudi akan melakukan transfer sebesar Rp. 9.000.000 ke Mrs. B yang memiliki account di BNI Jakarta. Proses pertama yaitu Mr. A memberikan uang sebesar Rp. 9.000.000 ke Bank of Saudi Arabia. Kemudian Bank of Saudi Arabia akan memberikan surat kepada Mr. A untuk diisi oleh Mr. A yang kemudian akan dikirim oleh Mr. A ke Mrs. B melalui mail transfer atau Bank Draft. Setelah surat itu sampai ke Mrs. B, surat itu akan diberikan ke BNI Jakarta untuk dicairkan. Jadi, singkatnya cara kliring antar negara yang pertama ini memiliki sistem “mengurus sendiri” karena kedua Bank disini tidak berfungsi sebagai perantara keuangan.


               Gambar 1.7 memiliki sistem kliring antar negara yang berbeda dengan cara di gambar 1.6. Pada gambar 1.7 ini mengilustrasikan bahwa Mr. A yang berada di Arab Saudi akan melakukan kliring sebesar Rp. 9.000.000 ke Mrs. B yang memiliki account di BNI Jakarta. Proses pertama yaitu Mr. A memberikan uang sebesar Rp. 9.000.000 ke Bank of Saudi Arabia. Kemudian Bank of Saudi Arabia akan memberikan surat kepada Mr. A untuk diisi oleh Mr. A yang kemudian surat itu akan diberikan kembali ke Bank of Saudi Arabia. Lalu Bank of Saudi Arabia akan melakukan payment order  ke BNI Jakarta yang kemudian dana tersebut akan dimasukan ke account milik Mrs. B oleh BNI Jakarta. Jadi, singkatnya cara kliring antar negara yang kedua ini memiliki sistem “diurusi” karena kedua Bank ini bersifat sebagai perantara keuangan. Hal ini dapat terjadi karena Bank of Saudi Arabia memiliki hubungan antar bank atau correspondent bank dengan BNI Jakarta.


B. LOAN

         Pendapatan sebuah Bank berasal dari pinjaman yakni berupa deposit yang berasal dari masyarakat. Deposit yang diterima Bank akan dicatat pada posisi liabilities di neraca. Pinjaman ini akan digunakan untuk investasi dan pemberian kredit ke masyarakat agar Bank memiliki pendapatan yang akan digunakan untuk membayar pinjaman dari deposit tersebut. Pendapatan Bank juga berasal dari selisih bunga deposit dengan bunga kredit yang diberikan. Keseluruhan pendapatan Bank ini akan digunakan untuk membayar biaya-biaya yang terjadi di bank tersebut baik biaya operasi maupun biaya pemberian hadiah ke pada para nasabahnya. Dibawah ini merupakan tampilan neraca pada Bank.

Assets
Use of Fund (Penggunaan Dana Bank)

Liabilities
Source of Fund (Sumber Dana Bank)

Cash Reserves :
*Kas
*Rekening Koran pada Bank Indonesia

#Cash Reserves merupakan penentu likuiditas.


Deposits :
*Tabungan (Saving Deposit)
*Giro (Demand Deposit)
*Deposito (Time Deposit)


Loan


Securities :  à (Bersifat Dapat Dijual)
*Bond  
*Call Money
*Kredit Likuiditas Bank Indonesia
*Pinjaman Holding


Securities : à  (Berasal dari Pembelian)
*Bond  
*Call Money
*Pinjaman Holding


Capital :
*Stock / Saham
*Modal Pribadi

Other Assets



Aturan Loan

1. LDR 

LDR =                Loan                 x 100%  = maksimal 110%
               Deposits + Capital

            Dari rumus LDR dapat diartikan bahwa setiap pinjaman atau loan  yang ada di bank harus berasal dari Deposit dan Capital. Dimana proporsi capital hanya sebesar 10%, ini merupakan prinsip kehati-hatian akan resiko yang dilakukan oleh Bank.

2. Untuk KUK (Kredit Usaha Kecil)

            Kredit Usaha Kecil minimal memiliki proporsi 20% dari loan. Dimana bunga KUK harus < dari bunga deposito atau bunga KUK harus > dari bunga tabungan. Dari ukuran bunga tersebut, maka KUK harus bersumber dari dana tabungan, karena jika bersumber dari giro dan deposito akan menyebabkan negative miss match dimana giro memiliki suku bunga yang fluktuatif dan deposito memiliki suku bunga yang tinggi.

Macam-macam Loan

1. Loan Konsumtif

        Loan Konsumtif yaitu pinjaman yang bersumber dari deposit untuk meminjamkan kredit, contohnya seperti credit card. Dengan contoh credit card tersebut, maka dapat diketahui bahwa pinjaman tersebut memiliki suku bunga yang tinggi. Jadi pada loan konsumtif akan terjadi negative miss match karena adanya sumber dana jangka panjang yang digunakan untuk mendanai pengeluaran jangka pendek dan begitupun sebaliknya. Jika terjadi negative miss match maka presentase tingkat bunga sumber dana > dari tingkat bunga kredit yang pada akhirnya akan menyebabkan kerugian yang dialami oleh Bank.

2. Loan Investasi

3. Loan Modal Kerja, dll.


C. DATA FLOW DIAGRAM (DFD)

                  Data Flow Diagram (DFD) adalah suatu diagram yang menggunakan notasi-notasi untuk menggambarkan arus dari data sistem yang penggunaannya sangat membantu untuk memahami sistem secara logika, tersruktur dan jelas. DFD merupakan alat bantu dalam menggambarkan atau menjelaskan sistem yang sedang berjalan logis.


              Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa setiap Bank memiliki kantor-kantor yang berada di setiap daerah guna menjaring nasabah lebih banyak dan agar para nasabah memiliki kemudahan untuk melakukan aktivitas-aktivitas perbankan.  Jadi setiap Bank memiliki Kantor Pusat dan beberapa Kantor Cabang. Tidak berhenti sampai disitu, masing-masing Kantor Cabangpun memiliki beberapa Kantor Cabang Umum dan masing-masing Kantor Cabang Umum memiliki beberapa Kantor Cabang Pembantu.

            Karena begitu banyaknya kantor-kantor yang ada dan  begitu banyaknya pula para nasabah di setiap kantor-kantor tersebut maka terjadi kesulitan untuk pengidentifikasian. Untuk mempermudah pengidentifikasian nasabah, setiap nasabah memiliki nomor rekening yang berbeda-beda dengan nasabah yang lainnya. Tidak hanya nasabah, setiap kantor-kantor yang adapun memiliki nomor- nomor atau kode-kode yang berbeda guna mempermudah pengidentifikasian. Misalnya Kantor Pusat memiliki kode 01, Kantor Cabang yang pertama memiliki kode 1.1 , Kantor Cabang yang kedua memiliki kode 1.2, dan Kantor Cabang yang ketiga memiliki kode 1.3. Untuk Kantor Cabang Umum yang pertama dan kedua misalnya memiliki kode 1.21 dan 1.22 karena berasal dari Kantor Cabang kedua. Sedangkan Kantor Cabang Pembantu yang pertama dan kedua memiliki kode 1.21.1 dan 1.21.2 karena berasal dari Kantor Cabang Umum yang pertama. Pengidentifikasian nomor nasabah dan nomor kantor yang berbeda juga berguna untuk mempermudah pengelompokan assets dan liabilities (deposits) pada neraca.

Contoh account nasabah :



D. BUNGA

            Setiap hari Bank melakukan proses akhir hari atau dapat dikatakan mengakumulasi saldo rekening berdasarkan transaksi yang terjadi setiap harinya termasuk juga mengakumulasi bunga yang ada pada Bank. Hal ini dikarenakan bunga termasuk ke dalam pendapatan Bank. Jadi dengan bunga, Bank dapat meraup untung yang sangat besar untuk menutupi semua biaya pada Bank tersebut.                 

Perhitungan Bunga
1. Saldo Terendah à berdasarkan saldo terendah yang dilihat per bulan.
2. Saldo Rata-rata à berdasarkan saldo rata-rata yang dilihat per bulan.
3. Saldo Harian      à berdasarkan saldo harian yang dilihat per hari.

            Perhitungan bunga untuk saldo terendah, saldo rata-rata, dan saldo harian ini berdasarkan saldo dari keseluruhan nasabah yang ada pada Bank tersebut.

Rumus

Formula Bunga untuk sisi Assets         = (%i x Hari Bunga x Nominal) : 360
Formula Bunga untuk sisi Liabilities  = (%i x Hari Bunga x Nominal) : 365
Saldo Awal Bulan                              = Saldo Akhir Hari + Bunga

Contoh

1. Perhitungan Bunga Tabungan

         Misalnya Mr. A menabung di Bank A, maka Bank A akan memperhitungkan bunga dari nasabahnya yaitu Mr. A, dengan suku bunga tabungan sebesar 10%.

Tanggal
Saldo
5 – 05 – 2012
Rp. 50.000.000,-
7 – 05 – 2012
Rp. 60.000.000,-
10 – 05 – 2012
Rp. 45.000.000,-
18 – 05 – 2012
Rp. 35.000.000,-

a. Perhitungan Bunga berdasarkan Saldo Terendah

   à  (10% x 31 – 5 + 1 x Rp. 35.000.000,-) : 365 = Rp. 258.904,11

10% = Tingkat suku bunga
31    = Hari dalam satu bulan Mei
5      = Saldo awal tabungan pada bulan Mei
Rp. 35.000.0000    = Saldo terendah pada bulan Mei
365  = Pembagi untuk sisi liabilities

b. Perhitungan Bunga berdasarkan Saldo Harian

*7 Mei  à (10% x 7 –5 x Rp. 50.000.000,-) : 365           =     Rp. 27.397,26
10 Mei à  (10% x 10 –7 x Rp. 60.000.000,-) : 365         =     Rp. 49.315,06
18 Mei à (10% x 18 –10 x Rp. 45.000.000,-) : 365        =     Rp. 98.630,13
31 Mei à (10% x 31 –18 + 1 x Rp. 35.000.000,-) : 365  =     Rp. 134.246,57
            **Total Bunga Tabungan                                            Rp. 309.589,02

*10% = Tingkat suku bunga
   7 = Perhitungan harian pada tanggal 7 Mei
   5 = Tanggal sebelum tanggal perhitungan
   Rp. 50.000.000 = Saldo harian pada tanggal 5 Mei
   365 = pembagi untuk sisi liabilities
   1  = akhir bulan selalu di tambah dengan 1 seperti pada tanggal 31 Mei

** Saldo total bunga tabungan pada akhirnya akan dikurangi dengan administrasi Bank dan PPh Bank. Jadi saldo total bunga tabungan yang diterima nasabah akan berkurang.

2. Perhitungan Bunga Kredit

a. Perhitungan Bunga Kredit dengan Annuitas

Tanggal
Kredit Mrs. B,              i = 15%
Saldo
10 Mei 2012
Tunai Rp. 30.000.000
Rp. 30.000.000
13 Mei 2012
Pinbuk pada tabungan Rp. 20.000.000
Rp. 50.000.000
18 Mei 2012
Pinbuk pada deposito Rp. 20.000.000
Rp. 70.000.000
20 Mei 2012
Pinbuk kredit deposito Rp. 15.000.000
Rp. 55.000.000

*13 Mei  à (15% x 13 –10 x Rp. 30.000.000,-) : 360           =           Rp.   37.500,00
18 Mei  à (15% x 18 –13 x Rp. 50.000.000,-) : 360             =           Rp. 104.166,67
20 Mei  à (15% x 20 –18 x Rp. 70.000.000,-) : 360             =           Rp.   58.333,33
31 Mei à (15% x 31 –20 + 1 x Rp. 55.000.000,-) : 360       =            Rp. 275.000,00
            **Total Bunga Kredit                                                             Rp. 475.000,00

* 15% = tingkat suku bunga kredit
   13 = Perhitungan harian pada tanggal 13 Mei
   10 = Tanggal sebelum tanggal perhitungan
   Rp. 30.000.000 = Saldo harian pada tanggal 10 Mei
   360 = pembagi untuk sisi assets
   1  = untuk akhir bulan selalu di tambah dengan 1 seperti pada tanggal 31 Mei.
   Pinbuk = pemindahan buku

** Total bunga kredit pada akhirnya akan ditambah dengan biaya administrasi Bank dan PPh Bank. Jadi total bunga kredit yang dibayarkan nasabah akan bertambah.

b. Perhitungan Bunga Kredit dengan Flat (Fixed Rate)

            Misalnya Mrs. B meminjam kepada Bank senilai Rp. 10.000.000 dengan tingkat suku bunga kredit sebesar 10% per tahun selama 3 tahun pinjaman. Maka saldo bunga kredit Mrs. B dengan sistem flat (fixed rate) sebesar Rp. 83.333,33.

(Rp. 10.000.0000 x 3 tahun x 10%) : 36* = Rp. 83.333,33

*36 = jumlah bulan dalam 3 tahun.

            Jadi jika menggunakan perhitungan bunga kredit dengan sistem flat (fixed rate) , maka nasabah akan membayar cicilan bunga dengan sistem tetap yaitu Rp. 83.333,33 per bulan selama 3 tahun.

 ___________________________________________________________________

Oleh :
MUTHIYA GABRIELA MALAWAT (24210878)

Mata Kuliah Bank dan Lembaga Keuangan 2 :  DR. PRIHANTORO, SE., MM

Referensi :

9 komentar:

  1. Ijin Copas ya mb, buat tambahan referensi tugas :D

    BalasHapus
  2. makasih banyk yah mutia

    BalasHapus
  3. Terima Kasih infonya sangat bermanfaat..

    Keep Posting ^^

    BalasHapus
  4. Ssippp..pembahasan yg lengkap mengenai Sistem Kliring Nasional, tidak bertele-tele dan sangat bermanfaat :D

    BalasHapus
  5. makasih ya untuk sharenya bermanfaat banget untuk saya :)
    http://bisnissmartku.blogspot.com/
    http://intipcaraku.tk/

    BalasHapus
  6. Dear Sir / Madam,
    Aku Mr Paul Cortez reputasi, sah, dan uang pinjaman terakreditasi. Saya meminjamkan uang kepada individu dan badan usaha berbadan hukum yang membutuhkan bantuan keuangan. Apakah Anda memiliki kredit yang buruk atau Anda membutuhkan uang untuk membayar tagihan? Apakah Anda memerlukan pinjaman atau pendanaan untuk alasan apapun saya ingin menggunakan media ini untuk memberitahu Anda bahwa saya memberikan bantuan penerima dapat diandalkan sebagai saya akan senang untuk menawarkan pinjaman Anda pada tingkat bunga rendah. Layanan yang diberikan meliputi:

    refinance
    pinjaman Inventor
    pinjaman Auto
    Hutang konsolidasi
    pinjaman Bisnis
    pinjaman pribadi

    Mohon menulis kembali jika Anda tertarik, di mana respon Anda akan dikirimkan formulir permohonan pinjaman untuk mengisi. (Tidak ada jaminan sosial dan tidak ada pemeriksaan kredit, 100% dijamin) i berharap memberikan memungkinkan saya untuk menjadi layanan kepada Anda. Anda dapat menghubungi kami melalui e-mail: bensonfinancialservices@hotmail.com

    Terima kasih karena saya berharap memberikan memungkinkan saya untuk menjadi layanan kepada Anda ...
    Mr Paul Cortez
    E-mail: bensonfinancialservices@hotmail.com

    BalasHapus