:)

:)
WELCOME TO MY BLOG :) HAPPY READING :) I HOPE USEFUL FOR YOU !!! AND PLEASE LEAVE A COMMENT :)

Sabtu, 22 Oktober 2011

Sirklus Aliran Pendapatan





Keterangan :
* W = Wages / Gaji dan Upah
* C = Consumsi / Konsumsi
* Tx = Tax / Pajak
* r  = Bunga
* s  = Subsidi
* I  = Investasi
* Policy = Kebijakan

Siklus Aliran Pendapatan (circular flow) à  model yang menggambarkan bagaimana interaksi antarpara pelaku ekonomi yang menghasilkan pendapatan untuk digunakan sebagai pengeluaran untuk memaksimalkan nilai kegunaan  masing-masing pelaku ekonomi.


Masyarakat  Surplus (+) à Produsen

Sirklus aliran surplus di sektor masyarakat (rumah tangga) berpengaruh ke sektor produsen, sektor pemerintah, dan sektor bank. Yang pertama akan saya bahas adalah hubungan antara sektor masyarakat (rumah tangga) surplus dengan produsen. Hubungan sektor masyarakat surplus dengan produsen menggambarkan sektor masyarakat yang memiliki faktor-faktor produksi barang dan jasa privat (sektor swasta) maupun barang dan jasa publik (sektor pemerintah). Faktor-faktor produksi tersebut adalah kesediaan untuk bekerja (tenaga kerja) , barang modal (contohnya tanah), uang dan kesediaan untuk menanggung resiko yang dihadapi oleh perusahaan dengan membeli saham. Dengan adanya faktor produksi barang dan jasa yang dimiliki oleh sektor masyarakat (rumah tangga) , maka masyarakat bekerja untuk sektor produsen dan masyarakat memperoleh penghasilan / gaji, upah , bunga, deviden, dan sewa dari produsen yang akan digunakan untuk mengkonsumsi barang dan menikmati jasa yang dibeli dari produsen.


Masyarakat  Surplus (+) à Pemerintah

Yang kedua adalah hubungan antara sektor masyarakat surplus dengan pemerintah. Hubungan tersebut menggambarkan sektor masyarakat membayar pajak dari penghasilan / pendapatan yang diterima di sektor produsen. Pajak yang dibayar ke pemerintah akan mengurangi pendapatan total di sektor masyarakat. Pendapatan dikurangi pajak merupakan pendapatan yang dapat dibelanjakan (disposible income). Pendapatan inilah yang digunakan untuk konsumsi barang dan jasa yang diproduksi sektor produsen. Dengan adanya pajak, maka pengeluaran masyarakat untuk konsumsi dan menabung akan berkurang. Dan sebaliknya, yang diberikan pemerintah terhadap masyarakat kurang mampu dan pengangguran adalah berupa subsidi, yang pada akhirnya akan menambah tingkat konsumsi masyarakat.


Masyarakat  Surplus (+) à Bank

Yang ketiga adalah hubungan antara sektor masyarakat suplus dengan sektor lembaga bank. Hubungan tersebut menggambarkan masyarakat surplus akan mensisihkan sebagian dari pendapatan totalnya atau pendapatan disposiblenya untuk digunakan menabung. Tabungan tersebut akan disimpan pada lembaga bank dalam posisi kredit pada bank. Dan bank akan memberikan balas jasa berupa bunga pada masyarakat atas kesediaannya menabung di bank yang sebelumnya dianggap sebagai hutang pada masyarakat.


Masyarakat  Defisit (-) à Produsen

Selanjutnya saya akan membahas mengenai sirklus aliran defisit di sektor masyarakat ke sektor produsen, sektor pemerintah, dan sektor bank. Yang pertama akan saya bahas adalah hubungan antara sektor masyarakat (rumah tangga) defisit dengan produsen. Hubungan antara sektor masyarakat (rumah tangga) defisit dengan produsen adalah investasi. Investasi dapat berupa pengeluaran dalam bentuk penanaman modal atau membeli barang-barang modal dan perlengkapan-perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi barang dan jasa disektor produsen. Ada juga masyarakat yang sebagian pendapatan total atau pendapatan disposablenya tidak digunakan untuk menabung maka masyarakat lebih memilih untuk melakukan investasi ke produsen di pasar modal dalam bentuk saham dan obligasi. Saham adalah surat berharga yang dapat dibeli atau dijual oleh perorangan atau lembaga di pasar tempat surat tersebut diperjualbelikan sedangkan obligasi adalah suatu pernyataan utang dari penerbit obligasi kepada pemegang obligasi beserta janji untuk membayar kembali pokok utang beserta kupon bunganya pada saat tanggal jatuh tempo pembayaran. Keuntungan yang diperoleh produsen dapat digunakan untuk saham dan obligasi di pasar modal dan juga dapat langsung dibagi berupa deviden , yang selebihnya menjadi laba ditahan. Saham dapat dilihat dengan cara melihat capital gain dan capital loss. Capital gain adalah suatu keuntungan atau laba yang diperoleh dari investasi dimana nilainya melebihi harga pembelian, dan sebaliknya dengan capital loss.


Masyarakat  Defisit (-) à Pemerintah

Yang kedua adalah hubungan antara sektor masyarakat defisit dengan sektor pemerintah. Hubungan tersebut menggambarkan kebijakan pemerintah terhadap situasi dan kondisi yang ada di masyarakat. Ada dua kebijakan, yang pertama kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. Kebijakan fiskal adalah kebijakan ekonomi yang digunakan pemerintah untuk mengelola atau mengarahkan perekonomian kearah yang lebih baik dan diinginkan dengan cara mengubah-ubah penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Dampak kebijakan fiskal terhadap sektor masyarakat adalah mengurangi konsumsi, tabungan rumah tangga dan masalah pengangguran dapat diperkecil. Sedangkan kebijakan moneter adalah upaya pemerintah mengendalikan atau mengarahkan perekonomian kearah kondisi yang lebih baik dan yang diinginkan dengan cara mengatur jumlah uang yang beredar.


Masyarakat  Defisit (-) à Bank

Yang ketiga adalah hubungan antara sektor masyarakat defisit dengan sektor bank. Hubungan tersebut menggambarkan masyarakat melakukan pinjaman untuk penambahan modal atau untuk memenuhi kebutuhannya dengan cara kredit ke bank.


Pemerintah à Produsen    dan     Pemerintah à Bank

Kemudian yang akan saya bahas adalah aliran antara sektor pemerintah ke sektor produsen adalah dalam bentuk subsidi yang melalui kebijakan Riil. Dengan menaikan suku bunga tabungan maka suku bunga pinjaman akan turun dan arus investasipun akan turun. Dan juga Aliran pemerintah ke produsen ini menggambarkan nilai pengeluaran pemerintah atas barang dan jasa yang diproduksi oleh perusahaan. Sedangkan aliran sektor pemerintah ke bank adalah dalam bentuk kebijakan moneter dengan mengatur jumlah uang yang beredar seperti dengan menurunkan tingkat bunga pinjaman yang mengakibatkan tingkat kreditor naik, dan tingkat suku bunga tabungan turun. Karena suku bunga pinjaman berbanding terbalik dengan suku bunga tabungan. Pengelolaan yang benar adalah suku bunga pinjaman harus lebih besar dari pada suku bunga tabungan.


GLOBALISASI

Globalisasi adalah suatu proses di mana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan memengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara

Scholte melihat bahwa ada beberapa definisi yang dimaksudkan orang dengan globalisasi:
§  Internasionalisasi: Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional. Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantung satu sama lain.
§  Liberalisasi: Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan batas antar negara, misalnya hambatan tarif ekspor impor, lalu lintas devisa, maupun migrasi.
§  Universalisasi: Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin tersebarnya hal material maupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.
§  Westernisasi: Westernisasi adalah salah satu bentuk dari universalisasi dengan semakin menyebarnya pikiran dan budaya dari barat sehingga mengglobal.
§  Hubungan transplanetari dan suprateritorialitas: Arti kelima ini berbeda dengan keempat definisi di atas. Pada empat definisi pertama, masing-masing negara masih mempertahankan status ontologinya. Pada pengertian yang kelima, dunia global memiliki status ontologi sendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara


 Ciri globalisasi
Berikut ini beberapa ciri yang menandakan semakin berkembangnya fenomena globalisasi di dunia :
§  Perubahan dalam Konstantin ruang dan waktu. 
§  Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung 
§ Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa (terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olah raga internasional).
§ Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional, inflasi regional dan lain-lain.

Globalisasi terjadi melalui berbagai saluran, di antaranya:
a. lembaga 
pendidikan dan ilmu pengetahuan;
b. lembaga keagamaan;
c. indutri internasional dan lembaga perdagangan;
d. wisata mancanegara;
e. saluran komunikasi dan telekomunikasi internasional;
f. lembaga internasional yang mengatur peraturan internasional; dan
g. lembaga kenegaraan seperti hubungan diplomatik dan konsuler.

Sejarah globalisasi
Banyak sejarawan yang menyebut globalisasi sebagai fenomena di abad ke-20 ini yang dihubungkan dengan bangkitnya ekonomi internasional. Padahal interaksi dan globalisasi dalam hubungan antar bangsa di dunia telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Bila ditelusuri, benih-benih globalisasi telah tumbuh ketika manusia mulai mengenal perdagangan antar negeri sekitar tahun 1000 dan 1500 M. Saat itu, para pedagang dari Tiongkok dan India mulai menelusuri negeri lain baik melalui jalan darat (seperti misalnya jalur sutera) maupun jalan laut untuk berdagang. Fenomena berkembangnya perusahaan McDonald di seluroh pelosok dunia menunjukkan telah terjadinya globalisasi.
Fase selanjutnya ditandai dengan dominasi perdagangan kaum muslim di Asia dan Afrika. Kaum muslim membentuk jaringan perdagangan yang antara lain meliputi Jepang, Tiongkok, Vietnam, Indonesia, Malaka, India, Persia, pantai Afrika Timur, Laut Tengah, Venesia, dan Genoa. Di samping membentuk jaringan dagang, kaum pedagang muslim juga menyebarkan nilai-nilai agamanya, nama-nama, abjad, arsitek, nilai sosial dan budaya Arab ke warga dunia. Dan perdagangan yang dilakukan negara-negara satelahnya.

Reaksi masyarakat

 

Gerakan pro-globalisasi

Pendukung globalisasi (sering juga disebut dengan pro-globalisasi) menganggap bahwa globalisasi dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran ekonomi masyarakat dunia. Mereka berpijak pada teori keunggulan komparatif yang dicetuskan oleh David Ricardo. Teori ini menyatakan bahwa suatu negara dengan negara lain saling bergantung dan dapat saling menguntungkan satu sama lainnya, dan salah satu bentuknya adalah ketergantungan dalam bidang ekonomi. Kedua negara dapat melakukan transaksi pertukaran sesuai dengan keunggulan komparatif yang dimilikinya. Misalnya, Jepang memiliki keunggulan komparatif pada produk kamera digital (mampu mencetak lebih efesien dan bermutu tinggi) sementara Indonesia memiliki keunggulan komparatif pada produk kainnya. Dengan teori ini, Jepang dianjurkan untuk menghentikan produksi kainnya dan mengalihkan faktor-faktor produksinya untuk memaksimalkan produksi kamera digital, lalu menutupi kekurangan penawaran kain dengan membelinya dari Indonesia, begitu juga sebaliknya.

Salah satu penghambat utama terjadinya kerjasama diatas adalah adanya larangan-larangan dan kebijakan proteksi dari pemerintah suatu negara. Di satu sisi, kebijakan ini dapat melindungi produksi dalam negeri, namun di sisi lain, hal ini akan meningkatkan biaya produksi barang impor sehingga sulit menembus pasar negara yang dituju. Para pro-globalisme tidak setuju akan adanya proteksi dan larangan tersebut, mereka menginginkan dilakukannya kebijakan perdagangan bebas sehingga harga barang-barang dapat ditekan, akibatnya permintaan akan meningkat. Karena permintaan meningkat, kemakmuran akan meningkat dan begitu seterusnya.

Gerakan antiglobalisasi (contra globalisasi)


Antiglobalisasi adalah suatu istilah yang umum digunakan untuk memaparkan sikap politis orang-orang dan kelompok yang menentang perjanjian dagang global dan lembaga-lembaga yang mengatur perdagangan antar negara seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
"Antiglobalisasi" dianggap oleh sebagian orang sebagai gerakan sosial, sementara yang lainnya menganggapnya sebagai istilah umum yang mencakup sejumlah gerakan sosial yang berbeda-beda. Apapun juga maksudnya, para peserta dipersatukan dalam perlawanan terhadap ekonomi dan sistem perdagangan global saat ini, yang menurut mereka mengikis lingkungan hidup, hak-hak buruh, kedaulatan nasional, dunia ketiga, dan banyak lagi penyebab-penyebab lainnya.
Namun, orang-orang yang dicap "antiglobalisasi" sering menolak istilah itu, dan mereka lebih suka menyebut diri mereka sebagai Gerakan Keadilan Global, Gerakan dari Semua Gerakan atau sejumlah istilah lainnya.

Dampak globalisasi secara menyeluruh
Dampak positif globalisasi antara lain:
§  Mudah memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan
§  Mudah melakukan komunikasi
§  Cepat dalam bepergian (mobilitas tinggi)
§  Menumbuhkan sikap kosmopolitan dan toleran
§  Memacu untuk meningkatkan kualitas diri
§  Mudah memenuhi kebutuhan

Dampak negatif globalisasi antara lain:
§  Informasi yang tidak tersaring
§  Perilaku konsumtif
§  Membuat sikap menutup diri, berpikir sempit
§  Pemborosan pengeluaran dan meniru perilaku yang buruk
§  Mudah terpengaruh oleh hal yang berbau barat

Globalisasi Ekonomi

Globalisasi perekonomian merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, dimana negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negara. Globalisasi perekonomian mengharuskan penghapusan seluruh batasan dan hambatan terhadap arus modal, barang dan jasa.
Ketika globalisasi ekonomi terjadi, batas-batas suatu negara akan menjadi kabur dan keterkaitan antara ekonomi nasional dengan perekonomian internasional akan semakin erat. Globalisasi perekonomian di satu pihak akan membuka peluang pasar produk dari dalam negeri ke pasar internasional secara kompetitif, sebaliknya juga membuka peluang masuknya produk-produk global ke dalam pasar domestik.

Menurut Tanri Abeng, perwujudan nyata dari globalisasi ekonomi antara lain terjadi dalam bentuk-bentuk berikut:
§  Globalisasi produksi 
§  Globalisasi pembiayaan 
§  Globalisasi tenaga kerja 
§  Globalisasi jaringan informasi 
§  Globalisasi Perdagangan 

Kebaikan globalisasi ekonomi

§  Produksi global dapat ditingkatkan
§  Meningkatkan kemakmuran masyarakat dalam suatu negara
§  Meluaskan pasar untuk produk dalam negeri
§  Dapat memperoleh lebih banyak modal dan teknologi yang lebih baik
§  Menyediakan dana tambahan untuk pembangunan ekonomi

 

 

Keburukan globalisasi ekonomi

§  Menghambat pertumbuhan sektor industri
§  Memperburuk neraca pembayaran
§  Sektor keuangan semakin tidak stabil
§  Memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang


Contoh Daya Saing dari Beberapa Produk Utama Nasional

             Perubahan faktor-faktor penentu  daya saing membuat produk-produk ekspor tradisional Indonesia semakin terancam di pasar regional maupun global. Ancaman ini semakin nyata dengan munculnya negara-negara 7pesaing baru yang memiliki baik faktor-faktor keunggulan komparatif maupun faktor-faktor keunggulan kompetitif seperti Cina dan Vietnam di pasar Asia dan negara-negara Eropa Timur di pasar Uni Eropa (UE).

Di pasar Asia, dalam 5 tahun belakang ini barang-barang buatan Cina mulai dari tekstil dan produk-produknya sampai dengan motor semakin membanjiri pasar di negara-negara Asia, termasuk Indonesia. Demikian juga, Vietnam sudah mulai menandingi Indonesia dalam ekspor beberapa komoditas traditional seperti kopi dan tekstil. Di pasar UE, peluang pasar ekspor Indonesia di wilayah tersebut terancam oleh 8 negara Eropa Timur yang akan menjadi anggota UE pada awal Mei 2004.

Kedelapan negara tersebut lebih mampu menembus pasar UE karena mendapat fasilitas pembebasan bea masuk (BM). Sementara itu, barang-barang ekspor Indonesia masih dikenai BM dan hambatan-hambatan non-tarif (NTB) lainnya, seperti dari segi kesehatan dan lingkungan hidup. Selain itu, setidaknya ada 10 produk ekspor Indonesia yang dikenai tuduhan dumping oleh UE. Misalnya, bahan baku produk tekstil (polyester staple fibre), bahan pemanis (sodium cyclamate), dan ring penjilid (ring binders). Selain itu, jarak yang lebih dekat sehingga biaya transportasi dan harga produk dari para pesaing tersebut lebih murah. Proses penyerahan barang pun singkat. Pendek kata, karena jarak yang lebih dekat membuat para pesaing dari Eropa Timur itu lebih efisien dalam memasuki pasar UE.


Contoh Globalisasi di Indonesia

Globalisasi di Indonesia salah satunya adanya PT Freeport McMoran Indonesia (Freeport) yang melakukan aktivitas penambangan di Papua yang dimulai sejak tahun 1967 atau selama 42 tahun. Keuntungan dari kegiatan penambangan mineral Freeport telah menghasilkan keuntungan luar biasa terhadap perusahaan asing tersebut,  tetapi hal tersebut tidak turut dinikmati oleh bangsa Indoneisa terutama rakyat papua. Hasil tambang Freeport berupa tambang emas, perak, dan tembaga terbesar di dunia. Fasilitas dan tunjangan tersebut serta keuntungan yang dinikmati para petinggi Freeport besarnya 1 juta kali lipat pendapatan tahunan penduduk Timika, Papua yang hanya sekitar $132/tahun. Keuntungan yang diperoleh Freeport tidak melahirkan kesejahteraan bagi Indonesia terutama warga sekitar. Ini merupakan bukti akibat buruk dari globalisasi jika tidak dikelola dan diawasi dengan baik.

Sumber :


Kelangkaan dan Hal yang perlu diakomodir dalam ekonomi


1.       Mengapa ada barang yang langka dan tidak langka ?

Masalah pokok ekonomi yang sebenarnya adalah kelangkaan. Kelangkaan itu disebabkan karena sumber daya yang ada terbatas yang diikuti oleh sifat manusia yang tidak pernah puas akan apa yang dia dapatkan. Kelangkaan dapat terjadi karena tidak tersedianya atau berkurangnya barang atau jasa yang dibutuhkan manusia.

Penyebab lain barang atau jasa menjadi langka karena dua hal, yaitu :

* Penyebab alami à kelangkaan barang yang disebabkan oleh faktor alamiah. Contohnya : bencana alam , brang hilang atau rusak sehingga menyebabkan ketersediaan barang berkurang.

* penyebab tidak alami  à terjadi karena perilaku manusia. Hal ini dapat merugikan orang lain dan menjadi penyebab utama kelangkaan. Contohnya : penebangan pohon-pohon hingga tersisa sedikit yang ada di hutan Kalimantan yang terjadi karena keserakahan dan ketakutan akan kelangkaan.

Dalam memperoleh barang atau jasa yang dikategorikan langka, dibutuhkan pengorbanan untuk memperolehnya. Lain halnya dengan barang atau jasa tidak langka. Barang atau jasa dapat dikatakan tidak langka karena tidak dibutuhkan pengorbanan untuk mendapatkannya.

Contohnya saja udara. Udara dapat dikatakan tidak langka karena tidak membutuhkan pengorbanan untuk mendapatkannya. Dimanapun kita bisa mendapatkan udara dengan cara menghirupnya. Adanya udarapun harus diikuti oleh adanya pepohonon, untuk mesirkulasikan udara yang kita butuhkan. Udara menjadi tidak langka karena pemrosesan tidak dilakukan oleh manusia melainkan oleh alam dan tidak akan pernah habis walaupun selalu kita pakai secara terus-menerus.


2.       Apa yang diakomodir dalam ekonomi ?

Ekonomi menjelaskan tiga hal utama yang perlu dikelola , diantaranya sumber daya , kebutuhan, dan pengelolaan. Hal tersebut dikelola untuk memeuhi kebutuhan dan keinginan hingga mencapai kepuasan. Sumber daya adalah sesuatu dalam kehidupan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Sumber daya terdapat dua, sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM). SDA kita sangat terbatas, maka dari itu kita harus memanfaatkan sebaik-baiknya SDA yang kita punya hingga mencapai kepuasan dalam batas normal. Kita dapat melakukannya dengan cara memilah antara kebutuhan dengan keinginan. Kebutuhan itu adalah sesuatu yang harus dipenuhi dengan penuh pengorbanan, misalnya dalam hari ini anda membutuhkan tiga kali makan, kebutuhan tersebut harus anda penuhi bagaimanapun caranya untuk mencapai kepuasan. Sedangkan keinginan adalah sesuatu yang belum pasti akan kita dapatkan dan tidak harus kita penuhi karena hanya sebuah rasa ingin , misalnya bulan depan anda ingin menonton konser di luar negeri sementara dana yang anda miliki tidak mencukupi. Hal tersebut merupakan keinginan karena merupakan sesuatu yang tidak harus kita penuhi. Singkatnya, kebutuhan pasti merupakan keinginan, tetapi keinginan belum tentu termasuk kedalam kebutuhan. Dan yang terakhir adalah pengelolaan , pengelolaan dilakukan untuk mengkoordinir secara baik dan efisien antara sumber daya dengan kebutuhan. Maksutnya ialah, bagaimana caranya agar sumber daya yang terbatas dapat dikelola dengan sebaik-bainya dan efisien untuk dapat memenuhi kebutuhan manusia yang tidak terbatas.


mata kuliah teori ekonomi 1 : Dr. Prihantoro

Jumat, 30 September 2011

SARMAG


gw mau bagi-bagi info nih tentang beasiswa SARMAG yang ada dikampus gw (Universitas Gunadarma)..
mungkin kalian tanya SARMAG itu apa ??
well , sarmag itu singkatan dari sarjana - magister.. 
maksutnya yang biasanya kita jalanin perkuliahan selama 4 tahun untuk mendapatkan gelar sarjana,
dengan program sarmag , cukup 4 tahun kita sudah mendapatkan 2 gelar yaitu sarjana dan master..
kerenkan ??? 
iia lah harus nya kita tempuh 6 tahun di bangku perkuliahan jika ingin mendapatkan gelar sajana n master, tapi kita hanya butuh 4 tahun untuk mendapatkan 2 gelar sekaligus.

cara'a :
bagi kalian MABA (mahasiswa baru),, jangan males" deh buat belajar n jangan suka bolos ngampus.. so belajar yang rajin buat mencapai IP diatas 3,50 di semester 1 n usahain di semester 2 IPK nya min 3.50 supaya bisa dipangil test toefl untuk beasiswa sarmag..
setelah itu,, pada awal semester 3 kalian akan mengikuti test TOEFL min skor 500 untuk ngeraih beasiswa sarmag..
sedikit bocoran : skor 430 sudah diterima kok sebenarnya.. :)
next kalian akan test wawancara.. wawancaranya gampang kok..

pembayaran :
untuk S2 itu sebenarnya sekitar 96 juta.. tapi kalau kalian dapat beasiswa sarmag, kalian cukup membayar 10 juta, yang dapat dicicil 3 kali.. dengan 10 juta,, kita dapet laptop juga loh..

kalau kalian udah lewatin test toefl n test wawancara, siap" tunggu kabar kalau kalian diterima atau nggak..


okee tunggu apa lagi ??? mulai sekarang siapin senjata giat belajar untuk raih beasiswa sarmag.. :) :) :)





Jumat, 22 April 2011

Swasembada Pangan


Pendahuluan

Istilah swasembada pangan mulai kita kenal sejak tahun 1964 waktu IPB dengan persetujuan Dinas Pertanian Rakyat dalam skala kecil (25-50 Ha) melakukan proyek Swa Sembada Bahan Makanan (SSBM) dengan mengerahkan anggota Staf Pengajar Fakultas Pertanian IPB di Karawang Kulon, Kab. Karawang. (Proyek Panca Usaha Lengkap (1963/64).

Setelah perang dunia kedua berakhir di negara berkembang ada usaha untuk memperhatikan lapisan penduduk miskin di daerah pedesaan agar dapat memenuhi paling tidak kebutuhan pangan utama lapisan tersebut.  Dalam rangka itulah Indonesia juga berusaha keras meningkatkan produksi beras sejak Pelita I (1969/70 – 1973/74) dengan memperkenalkan dan menyebarkan teknologi pertanian lebih maju yang dimulai dari proyek SSBM.  Import bibit unggul dari IRRI (Los Banos, Filipina), membangun pabrik pupuk buatan (kimia), pemberantasan hama dengan pestisida dan tanam jajar padi disawah adalah kegiatan yang disuluhkan oleh penyuluh lapang (PPL) terutama didaerah persawahan berpengairan, walaupun ada pula percobaan didaerah sawah tadah hujan secara terbatas.  Usaha peningkatan produksi pangan yang selanjutnya dikoordinasi oleh Departemen Pertanian tentu juga didorong oleh kenyataan bahwa tingkat kemiskinan masih tinggi.


Pembahasan


Pengertian swasembada pangan

SWASEMBADA PANGAN umumnya merupakan capaian peningkatan ketersediaan pangan dengan wilayah nasional, sedangkan KETAHANAN PANGAN lebih mengutamakan akses setiap individu untuk memperoleh pangan yang bergizi untuk sehat dan produktif.

Swasembada pangan berarti kita mampu untuk mengadakan sendiri kebutuhan pangan masyarakat dengan melakukan realisasi & konsistensi kebijakan tsb, antara lain dengan melakukan:

1. Pembuatan UU & PP yg berpihak pada petani & lahan pertanian.

2. Pengadaan infra struktur tanaman pangan seperti: pengadaan daerah irigasi & jaringan irigasi, pencetakan lahan tanaman pangan khususnya padi, jagung, gandum, kedelai dll. Serta akses jalan ekonomi menuju lahan tsb.

3. Penyuluhan & pengembangan terus menerus utk meningkatkan produksi, baik pengembangan bibit, obat2an, teknologi maupun sdm petani.

4. Melakukan Diversifikasi pangan, agar masyarakat tidak dipaksakan utk bertumpu pada satu makanan pokok saja (dlm hal ini padi/nasi), pilihan diversifikasi di indonesia yang paling mungkin adalah sagu, gandum dan jagung (khususnya indonesia timur).

Jadi diversifikasi adalah bagian dari program swasembada pangan yang memiliki arti pengembangan pilihan/ alternatif lain makanan pokok selain padi/nasi (sebab di indonesia makanan pokok adalah padi/nasi). Salah satu caranya adalah dengan sosialisasi ragam menu non padi/nasi.


Swasembada Pangan Terkendala karena Keterbatasan Lahan

Menteri Pertanian Suswono mengatakan pencapaian swasembada pangan, terutama padi, jagung, kedelai dan gula masih menghadapi kendala karena keterbatasan lahan pertanian di dalam negeri.
Beliau menjelaskan, mencapai swasembada pangan berkelanjutan pemerintah telah menetapkan peningkatan produksi. Untuk jagung 10 persen per tahun, kedelai 20 persen, daging sapi 7,93 persen, gula 17,56 persen dan beras 3,2 persen per tahun.

Dalam Sidang Regional Dewan Ketahanan Pangan Tahun 2010, dia mengatakan, mencapai target ini diperlukan peningkatan areal pertanaman. Dia mencontohkan, pada swasembada gula dibutuhkan lahan tambahan 350.000 hektare (ha), kedelai 500.000 ha. "Tapi ada kendala. Hingga saat ini, pun belum ada kepastian soal lahan," katanya dalam kegiatan yang diikuti para Sekretaris Dewan Ketahanan Pangan Provinsi dan Kabupaten/Kota se Indonesia.

Kondisi ini, menjadikan satu lahan pertanian terpaksa untuk menanam berbagai komoditas tanaman pangan secara bergantian. Akibatnya, Indonesia selalu menghadapi persoalan dilematis dalam upaya peningkatan produktivitas tanaman.

Jika menggenjot produksi kedelai, produksi jagung akan turun. Sebab, lahan diambil kedelai. Juga sebaliknya, karena kedua komoditas ini ditanam saling menggantikan.

Sebenarnya Badan Pertanahan Nasional (BPN) telah menjanjikan lahan 2 juta ha dari total lahan terlantar 7,3 juta ha untuk pertanaman pangan. Namun hingga saat ini belum ada kejelasan soal lahan itu.

Selain keterbatasan lahan, kendala lain yang dihadapi mencapai swasembada pangan masih tinggi alih fungsi atau konversi lahan pertanian ke non pertanian.

Saat ini, konversi lahan pertanian mencapai 100.000 ha per tahun, sedang kemampuan pemerintah menciptakan lahan baru maksimal 30.000 ha. Hingga setiap tahun justru terjadi pengurangan luas lahan pertanian.

Sementara perubahan yang mengakibatkan cuaca tidak menentu dan keterbatasan anggaran juga berdampak terhadap upaya swasembada produk strategis itu.

Menyinggung upaya pemerintah mengatasi persoalan keterbatasan anggaran, pemerintah mengembangkan program food estate atau kawasan pertanian skala luas dengan merangkul swasta, BUMN dan BUMD. "Food estate itu sebagai akselerasi, karena anggaran APBN terbatas. Orientasi ekspor, tetapi kalau kebutuhan dalam negeri berkurang, diutamakan mengisi kebutuhan dalam negeri.”


Persoalan swasembada lainnya

Ada beberapa persoalan yang masih membelit kemandirian perberasan kita. Saat ini terjadi peralihan lahan pertanian menjadi pusat aktivitas ekonomi, pemukiman dan pembangunan fisik. Ditambah lagi dengan kegagalan panen,wabah hama,, minimnya infrasturuktur dan kondisi alam yang fluktuatif membuat kita rawan mengalami krisis beras.Liberalisasi pangan yang sekarang mulai berefek pada jatuhnya harga gabah petani menambah buram potret politik perberasan. Belum lagi aksi penyeludupan beras ke luar negeri karena harga di luar lebih menjanjikan dibanding harga dalam negeri.


Program Swasembada Pangan Pemerintah Saat Ini

Pada masa pemerintahan SBY dianggap gagal dalam hal swasembada pangan dan hanya dianggap keberhasilan yang semu,Pentingnya pencapaian swasembada beras, perlu diketahui kedudukan khusus beras dalam menu, budaya, dan politik Indonesia. Beras adalah bahan makanan pokok bagi orang Indonesia. Berbagai bahan makanan lain pengganti beras pernah dianjurkan oleh pemerintah, namun rakyat tidak menyukainya.

Ketika harga beras melonjak sampai pada titik di mana konsumsinya harus dikurangi, penduduk menjadi kekurangan gizi dan kelaparan. Beras adalah pusat dari semua hubungan pertalian sosial.

Radius Prawiro pada tahun 1998 menjabarkan beberapa langkah kunci yang pernah diambil dalam perjalanan ke arah swasembada beras, diantaranya: 

1.      Bulog
2.      Dewan Logistik Pangan
3.      Harga-harga Beras

Di antara lembaga-lembaga tersebut, Buloglah yang paling berperan dalam pencapaian swasembada beras. Bulog tidak terlibat langsung dalam bisnis pertanian, melainkan hanya dalam urusan pengelolaan pasokan dan harga pada tingkat ansional.

Bulog sengaja diciptakan untuk mendistorsi mekanisme harga beras dengan manipulasi untuk memelihara pasar yang lebih kuat. Selama tahun-tahun pertamanya dalam dekade 70-an, Bulog secara bertahap menaikkan harga dasar beras untuk petani. Pada pertengahan dekade 80-an, ketika Indonesia surplus beras, Bulog mengekspor beras ke luar negeri untuk mencegah jatuhnya harga. Tindakan ini membantu memelihara stabilitas pasar yaitu:

1)      Teknologi dan Pendidikan.

Sejak tahun 1963, Indonesia memperkenalkan banyak program kepada para petani untuk meningkatkan produktivitas usaha tani. Pemerintah berjuang untuk memperkenalkan teknologi pertanian kepada para petani. Di samping itu, pemerintah juga menekankan pendidikan untuk menjamin teknik dan teknologi baru dimengerti dan digunakan secara benar. Faktor lain yang berperan penting dalam meningkatkan hasil padi adalah peningkatan penggunaan pupuk kimia.

2)      Koperasi Pedesaan.

Pada tahun 1972, ketika Indonesia kembali mengalami panen buruk, pemerintah menganjurkan pembentukan koperasi sebagai suatu cara untuk memperkuat kerangka kerja institusional. Ada dua bentuk dasar dari koperasi, pada tingkat desa ada BUUD (Badan Usaha Unit Desa). Pada tingkat kabupaten, ada koperasi serba usaha yang disebut KUD (Koperasi Unit Desa). Koperasi juga bertindak sebagai pusat penyebaran informasi atau pertemuan organisasi.

3)      Prasarana

Banyak aspek pembangunan prasarana yang secara langsung ditujukan untuk pembangunan pertanian, dan semuanya secara langsung memberikan kontribusi untuk mencapai swasembada beras.

Sistem irigasi merupakan hal penting dalam pembangunan prasarana pertanian. Pekerjaan prasarana lain yang berdampak langsung dalam pencapaian tujuan negara untuk berswasembada beras adalah program besar-besaran untuk pembangunan dan rehabilitasi jalan dan pelabuhan.

Pemerintah juga sering melakukan praktik dagang menjelang pelaksanaan kebijakan ekonomi yang kontroversial. Stok beras di pasaran dibuat langka baru kemudian harga naik, akhirnya masyarakat dipaksa memahami impor beras yang akan dilakukan oleh pemerintah. Impor beras yang dilakukan oleh pemerintah berdampak dua hal yakni:
-          Pertama, menurunkan motivasi kerja para petani karena hasil kerja kerasnya akan kalah berkompetisi dengan beras impor di pasaran.
-          Kedua, menterpurukkan tingkat pendapatan petani domestik yang rendah menjadi sangat rendah.

Selain itu, ada motivasi ekonomi-politik yang sebenarnya disembunyikan di balik logika bisnis impor beras. Impor beras merupakan bentuk kebijakan ekonomi-politik pertanian yang mengacu kepada kepentingan pasar bebas atau mazhab neo-liberalisme.

Kebijakan impor beras adalah pemenuhan kesepakatan AoA (Agreement on Agriculture) WTO yang disepakati oleh Presiden Soeharto tahun 1995 dan dilanjutkan pemerintahan penerusnya sampai sekarang. Butir-butir kesepakatan AoA terdiri dari :

1. Kesepakatan market access (akses pasar) komoditi pertanian domestik. Pasar pertanian domestik di Indonesia harus dibuka seluas-luasnya bagi proses masuknya komoditi pertanian luar negeri, baik beras, gula, terigu, dan lain sebagainya.

2. Penghapusan subsidi dan proteksi negara atas bidang pertanian. Negara tidak boleh melakukan subsidi bidang pertanian, baik subsidi pupuk atau saprodi lainnya serta pemenuhan kredit lunak bagi sektor pertanian.

3. Penghapusan peran STE (State Trading Enterprises) Bulog, sehingga Bulog tidak lagi berhak melakukan monopoli dalam bidang ekspor-impor produk pangan, kecuali beras.

Dampak pemenuhan kesepakatan AoA WTO sangat menyedihkan bagi kondisi pertanian lndonesia semenjak 1995 hingga sekarang ini. Sektor pertanian di Indonesia mengalami keterpurukan dan kebangkrutan. Akibat memenuhi kesepakatan AoA WTO, Indonesia pernah menjadi negara pengimpor beras terbesar di dunia pada tahun 1998 sebesar 4,5 juta ton setahun.

Beberapa kalangan aktivis gerakan petani di lndonesia menyebutkan merosotnya produksi beras nasional semenjak tahun 1985-2009 dikarenakan problem warisan struktural pertanian masih melekat dalam kehidupan petani. Di antaranya, semakin banyak petani yang berlahan sempit (menjamumya petani gurem) dan tidak adanya kemajuan teknologi pertanian yang berorientasi ekologis.

Menurut sebuah studi oleh Peter Timmer pada tahun 1975, Konsep kepemilikan lahan rata-rata memang agak kabur pada tingkat mikro karena adanya perbedaan besar dalam hal penggunaan dan kualitas lahan. Namun demikian, fakta yang perlu ditekankan adalah bahwa lebih dari dua pertiga populasi usaha tani hanya memiliki kurang dari setengah hektar lahan untuk bercocok tanam, bahkan mungkin kurang dari sepertiga hektar lahan”.

Kemiskinan struktural di Indonesia juga dikemukakan oleh Geertz pada penelitiannya di tahun 1963, yang membawa pada gagasan shared poverty (kemiskinan yang ditanggung bersama). Pekerjaan dan pendapatan dari sektor pertanian dibagi-bagi kepada anggota keluarga, atau desa, sehingga semua mendapat pekerjaan dan makanan, namun tetap miskin.

Geertz secara pesimis menyimpulkan bahwa barangkali tidak mungkin untuk memperbaiki pertanian Indonesia secara signifikan. Karena, tanpa mengubah struktur sosial secara besar-besaran, “Setiap usaha untuk mengubah arah perkembangannya, misalnya menabur pupuk di atas lahan pertanian di Jawa yang sangat sempit, irigasi modern, cocok tanam padat karya dan diversifikasi tanaman, hanya akan menumbuhkan satu hal: paralisis.”

Hasil survei Petani Center NGos tahun 2007 menyatakan bahwa tingkat pendapatan petani Indonesia yang memiliki luas sawah 0,5 hektare kalah dibandingkan dengan upah bulanan buruh industri di kota besar. Para petani yang memiliki tanah/sawah 0,5 hektare untuk sekali musim tanam memerlukan biaya produksi sebanyak Rp 2,5 juta, termasuk biaya sarana produksi, upah pekerja, pemeliharaan, dan lain-lain.

Sementara itu, hasil dari produksi beras/padi sawah seluas 0,5 hektare yang dijual, setelah sebagian dijadikan stok logistik rumah tangga, hanya menghasilkan Rp 3,5 juta hingga Rp 4 juta. Jadi, keuntungan bersih hanya Rp 1 juta sampai Rp 2 juta, yang jika dibagi tiga bulan maka rata-ratanya hanya mendapatkan laba Rp 700.000 per bulan. Jika impor beras dilakukan dan harga beras petani semakin anjlok, dapat dibayangkan berapa keuntungan yang akan didapatkan oleh para petani negeri ini.

Presiden SBY adalah seorang doktor pertanian yang pernah menulis tesis tentang revitalisasi pertanian dengan beberapa kesimpulan, di antaranya:

1) Untuk membangun kembali pertanian maka intervensi asing semacam IMF dan World Bank harus dinetralisasikan dari bidang pertanian.

(2) Pemerintah perlu mengorientasikan kebijakan fiskalnya untuk mendukung sektor pertanian.

(3) Pemerintah perlu memfasilitasi pengembangan pertanian yang berorientasi kepentingan petani dengan penerapan penuh sistem pertanian berkelanjutan. Namun sayangnya keyakinan atau ide cerdas SBY dalam disertasinya berbalik dengan realitas kebijakan ekonomi-politik pertanian yang direncanakan dan diimplementasikan.

Kebijakan pemerintahan SBY saat ini tidak mendukung berkembangnya sektor pertanian dalam negeri. Antara lain :
  • Indonesia telah mengarah ke negara industri, padahal kemampuanya masih di bidang agraris. Misalnya, kedudukan Pulau Jawa sebagai sentra penghasil padi semakin kehilangan potensi karena industrialisasi dan pembangunan perumahan.
  • Konversi tata guna lahan ini merupakan salah satu pemicu merosotnya pertanian Indonesia yang menjadi sumber penghidupan 49 persen warga negara.
Ada sejumlah faktor yang selama ini menjadi pemicu utama terpuruknya sektor pertanian, di antaranya :
  • Dari segi sarana dan prasarana, dana pemeliharaan infrastruktur pertanian, tidak ada pembangunan irigasi baru, dan pencetakan lahan baru tidak berlanjut.
  • Dalam hal bebasnya konversi lahan pertanian, pihak pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten tidak disiplin menjalankan pemerintahan dengan mengizinkan pengubahan fungsi pertanian yang strategis bagi ketahanan negara.
  • Dari sisi kebijakan dan politik, penerapan otonomi daerah membuat sektor tanaman pangan terabaikan. Para elite politik membuat kebijakan demi partai, bukan untuk kebijakan pangan rakyat. Keadaan semakin buruk dengan tidak adanya keamanan dan stabilitas yang seharusnya dijalankan aparat penegak hukum.

Kebijakan Pemerintah Dalam Swasembada Pangan


Program swasembada pangan, khususnya beras, tidak akan pernah terwujud selama jajaran pengambil kebijakan di pemerintahan lebih  mementingkan impor ketimbang memperluas lahan sawah dan membantu petani meningkatkan produksi. Swasembada beras tinggal ilusi setelah pernah diraih 1984 dan 2004 silam.

Indonesia sebenarnya memiliki sarana dan prasarana lengkap dan dapat diandalkan untuk mendukung swasembada beras. Terlebih bila memperhitungkan lahan pertanian padi yang masih potensial dan luas, di samping jumlah sumber daya manusia (petani) banyak, produksi pupuk dan benih memadai, serta sistem irigasi yang sudah terbentuk sejak lama.

Namun pemerintah pusat maupun pemerintah daerah (pemda) serta seluruh pihak terkait malah terkesan memandang sebelah mata sektor pertanian tanaman pangan. Fakta paling gamblang tentang itu: lahan pesawahan – termasuk yang beririgasi teknis – terus menyusut secara signifikan akibat tergusur aneka kepentingan nonpertanian, terutama permukiman dan industri.

Maka jangan sesali kalau produksi beras nasional cenderung menurun. Bahkan kalaupun berbagai faktor amat menunjang – seperti iklim, pengendalian hama, juga penyediaan berbagai input – produksi beras nasional sulit sekali ditingkatkan lagi. Produksi beras nasional boleh dikatakan sudah stagnan di level 50-an juta ton per tahun. Padahal konsumsi nasional, sebagai konsekuensi pertambahan penduduk, terus meningkat pasti dan begitu signifikan.

Di lain pihak, negara-negara seperti Thailand dan Vietnam terus berupaya keras meningkatkan produksi beras secara intensif. Upaya mereka sungguh tak mengenal lelah, termasuk mengembangkan dan menerapkan inovasi pertanian. Target mereka bukan lagi sekadar mencapai swasembada, melainkan tampil menjadi negara produsen beras terbesar di dunia.

Dalam konteks seperti itu pula, Thailand dan Vietnam sering tampil menjadi “penyelamat” bagi Indonesia ketika persediaan beras di dalam negeri menyusut. Bagi Indonesia, Thailand dan Vietnam kini menjadi sumber andalan bagi impor beras.

Tapi celakanya, impor beras kini terkesan bukan lagi sekadar alternatif sementara. Impor beras seolah sudah menjadi andalan untuk mengamankan kebutuhan nasional. Di tengah produksi beras di dalam negeri yang cenderung stagnan atau bahkan terus menurun, sementara kebutuhan konsumsi mencatat grafik yang kian menanjak, pemerintah tidak cukup terlecut untuk bertindak habis-habisan menggerakkan upaya peningkatan produksi beras nasional. Pemerintah terkesan lebih merasa aman dan nyaman mengandalkan impor.

Untuk mendukung salah satu program revitalisasi pertanian tersebut, pemerintah seharusnya menyiapkan lebih banyak lagi bibit unggul untuk para petani, sehingga produksi pertanian dari tahun ke tahun akan semakin membaik. Untuk mewujudkan swasembada yang dimaksud, maka diperlukan peningkatan produksi beras sebanyak 2 juta ton tahun 2007 dan peningkatan lima persen per tahun hingga tahun 2009.

Kunci keberhasilan peningkatan produksi padi, antara lain optimalisasi sumber daya pertanian, penerapan teknologi maju dan spesifik lokasi, dukungan sarana produksi dan permodalan, jaminan harga gabah yang memberikan insentif produksi serta dukungan penyuluhan pertanian dan pendampingan.

Sementara strategi yang dilakukan untuk mewujudkan keberhasilan itu, yakni dengan peningkatan produktivitas, perluasan areal tanam, pengamanan produksi, dan pemberdayaan kelembagaan pertanian serta dukungan pembiayaan usaha tani.

Sedangkan upaya peningkatan produktivitas padi antara lain melalui pengelolaan tanaman terpadu (PTT) di 33 provinsi seluas 2,08 juta hektare, penanaman padi hibrida di 14 provinsi seluas 181.000 hektare, dan perbaikan intensifikasi non-PTT di 33 provinsi seluas 10,3 juta hektare.


Kesimpulan

>> Swasembada pangan tidak sama dengan ketahanan pangan. Konsep ketahanan pangan mengacu pada pengertian adanya kemampuan mengakses pangan secara cukup untuk mempertahankan kehidupan yang aktif dan sehat. Sedangkan, swasembada pangan adalah kemampuan dari suatu negara dalam menjaga ketersediaan pangan untuk mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri.

>> Terjadinya ketidaktahanan pangan disebabkan oleh kurangnya kesadaran bertetangga dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga wujud dari keshalehan sosial diperlukan untuk mewujudkan stabilitas ketahanan pangan.

>> Untuk mewujudkan stabilitas ketahanan pangan dapat dilakukan dengan meningkatkan nilai keshalehan sosial sebagai wujud kepedulian individu terhadap masyarakat sekitar. Keharmonisan hubungan bertetangga bisa menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, aman dan menjadi lahan amal shaleh serta menciptakan proteksi awal dalam mencegah kerawanan pangan.

>> Beberapa upaya yang dilakukan dalam meningkatkan keshalehan sosial antara lain: pelaksanaan pola hidup sederhana, meningkatkan fungsi lembaga nonformal di masyarakat serta mengoptimalkan kinerja pemerintah dalam meningkatkan keshalehan sosial.

>> Untuk keluar dari benang kusut permasalahan perberasan, kita perlu langkah-langkah jangka pendek dan jangka panjang. Pertama, menerapkan politik beras untuk menjaga stabilitas makroekonomi. Caranya dengan mengendalikan harga lewat penyeimbangan pasokan dan permintaan. Kedua, pengadaan infrastruktur tanaman pangan seperti pengadaan daerah dan jaringan irigasi, pencetakan lahan tanaman pangan khususnya padi, jagung, gandum, kedelai serta akses jalan ekonomi. Ketiga, membendung laju konversi lahan dan peningkatan produktivitas melalui penelitian dan pengembangan varieas unggul. Keempat, membuat kebijakan-kebijakan yang pro petani, seperti mengalokasikan anggaran buat sektor pangan ataupun subsidi pupuk yang cukup bagi petani. Diharapkan Indonesia bukan hanya bisa memenuhi kebutuhan “perut sendiri” tetapi sudah mampu berkontribusi buat “perut negara lain”.


Daftar Pustaka

http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080409213724AAuJk0F
http://nissakfh.wordpress.com/2011/04/14/swasembada-pangan-23210895/
http://seriustapilucu.blog.friendster.com/tag/swasembada-pangan/
http://www.komunitasdemokrasi.or.id/comments.php?id=P216_0_11_0_C
http://www.batukar.info/news/swasembada-pangan-terkendala-keterbatasan-lahan